MENUJU KEBEBASAN DALAM BERFIKIR II

MENUJU KEBEBASAN DALAMA BERFIIR II

Awal lalu saya publis tulisan tentang “Menuju Kebebasan Dalam Berfikir”. Saya mengambil teori Manusia Goa dari plato. Untuk kali ini saya mencoba menuliskan apa yang saya dapat dari sebuah diskusi atau lebih tepatnya obrolan santai. Teringat, sebelum tulisan itu diterbitkan dalam web ini pada bulan Februari 2017,saya pergi kesebuah pesantren yang menamakan dirinya “Pesantren Rakyat” Di Kab. Malang tepatnya di Sumber Pucung. Bertemu dengan Ustadz yang sangat hebat, sangat bermasyarakat. Sebuah kata yang sampai sekarang masih saya renungkan “Menjadi Manusia Yang Merdeka” begitulah ucap beliau kepada saya. Beliau bertanya “Bagaimana menurutmu ndes ( beliau memberi julukan saya Gondes alias Gondrong desa )”. “ya gimana pak, ketika saya memilih ini itu sesuai kehendak saya masih ada sistem yang mengikat contohnya saja orang tua, saya memilih kuliah di Politeknik semisalnya tapi tidak diperbolehkan, selain itu masih ada hukum yang tidak tertulis, moral misalnya” jawab saya yang tidak menemukan jawaban. Mulailah kata dan pertanyaan itu terus menghatui saya. Terus muncul dalam fikiran dan masih belum saya temukkan jawabannya.

Entah minggu ini kebetulan atau memang ada yang membuat realitas yang saya rasakan. Bertemu dan berbincang bincang dengan beberapa senior di PMII. Apa tujuan dari hidup, siapa kita sebenarnya, bagaimana cara melihat orang lain dengan cara pandang yang berbeda.

Memang pertanyaan “Apa tujuanmu urip nang” ( bahasa jawa ).sudah sering saya dengar. Tapi lagi dan lagi tidak bisa menemukan jawabanya. Manusia ialah makhluk hidup dan pastilah akan mati. Apa yang akan diperbuat selama hidupnya. Bagaimana cara dia memakanainya. Maukah di memberikan hidupnya untuk orang lain. Pernahkah dia berfikir untuk bersyukur dan berterimakasih dengan hidup yang dimiikinya.

Banyak cara yang sudah saya terutama dengan cara mengingat kembali buku yang sudah saya baca “Dunia Shopie”Karya Joostein Gaarder. Shopie dalam tokoh utama buku itu mendapatkan sebuah surat misterius yang berisikan pertanyaan “Siapa Kamu ?”. Shopie adalah seorang gadis muda mudah penasaran.mulai surat pertama itulah shopie mulai banya merenung tentang bagaimana sebenarnya kehidupan yang dia jalani, dan mulailah muncul kejadian kejadian yang aneh. Tentu saja surat surat misteius itu terus datang kepadanya secara bergantian. Singkat saja sophie adalah sebuah tokoh yang ditulis dalam sebuah cerita oleh ayah Hilde sebagai hadiah ulangnya. Akhirnya shopie menyadarinya seiring dengan perenungan perenungan dan pelajaran yang ia dapatkan. Mulailah muncul lagi dalam benak sophie. Jika dia hanyalah sebuah toko dalam kertas putih yang dituliskan dengan tinta apakah dia memiliki kehenda murni atau kehendak bebas dalam kehidupanya. Dan jangan jangan dia berfikir sepertipun juga telah diatur oleh ayah hilde. Sophie mencoba keluar dari cerita yang dibuat ayah hilde tersebut.

Sayang sekali Shopie tidak berfikir kalau memang dia mempunyai kehendak bebas dalam hidupnya. Ataupun seluruh kehidupanya sudah ditulis oleh ayah hilde memilih. Tidak pernah sohpie berfikir bagaimana dia dilahirkan dalam sebuah cerita yang memberinya kehidupan dan tempat untuk hidup.

Tujuan sebuah hidup adalah untuk mensyukurinya, berterimakasih meskipun kita akan mati karena itulah sifat seorang manusia. Berbeda dengan shopie yang akan terus hidup dalam buku yang dibuat oleh Joostien Gaarder. Tapi apakah itu sebuah jawaban atau sebuah pelarian dari jawaban ?.

Kehidupan manusia tidak akan lepas dari sebuah pertarungan salah satunya adalah pertarungan orang tertindas dan yang menindasnya. Pertarungan kelas kalo katanya Karl Marx. Ini mungkin sudah menjadi takdir bagi manusia. Tinggal kita ingin bersekutu dengan yang mana. Dengan kaum penindaskah atau tertindaskah. Jika memang lebih memilih untuk bersekutu dengan kaum tertidas siap siap saja hidup ini bukan lagi kehidupan yang saya miliki tepati kehidupan yang diserahkan untuk banyak orang. Tapi memang sejatinya begitulah seharusnya manusia. Berguna bagi orang lain dari konteks apapun yang masih dalam ranah perjuangan untuk membela orang orang yang tertindas. Atau ya sudahlah saya hidup nyaman dengan apa adanya sekarang yang saya rasakan. Terserah pada kita.

Hidup dengan berfikir bebas bukanlah hal yang gampang menurut saya sendiri. Ntah menurut kalian seperti apa mungkin kalian sudah menemukan bagaimana caranya berfikir bebas. Tapi jangan jangan yang kalian temukan bukanlah cara yang kalian temukan sendiri, berarti belum ada kebebasan berfikir dalam dirimu.

saya sendiri mencoba memulainya dengan mencari “Siapa Aku” dengan pertanyaan seperti itu, akan muncul sebuah jawaban jawaban ( ingat jangan berhenti mencari meskipun sudah kamu temuan jawabanya, munculkan pertanyaan lagi ). Dengan jawaban yang muncul maka muncul pula sebuah tanggungjawab kehidupannya. Yakin atas diriya sendiri.meperkuat inilah aku. Tapi bukan berarti untuk langsung mengamini. Yang satu ini patut untuk selalu diingat, jangan pernah menerima atau membenarkan apa yang diatakan orang lain karena pastilah orang itu bukanlah dirimu dan bukanlah pemikiranmu.simpulkan sendiri apa yang kamu rasakan ( ya meskipun saya yakin kita adalah satu sebenarnya ). Kita terbentuk dari sebuah historis dan perenungan perenungan. Begitupun orang lain. Jangan percayai perkataan mereka telusi historisnya. Apa yang dia perbuat pada masa lalunya.pemikiran dan apa yang dia ingin lakukan tidak akan jauh dari itu.

 

SEKARANG TERSERAH PADA DIRI KITA.

BERFIKIR BEBAS.

ATAU MENGHAMBA PADA PEMIKIRAN ORANG LAIN ?.

 

Nuanang

Malang, April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s